Tampilkan postingan dengan label Kewirausahaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kewirausahaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 November 2016

Kewirausahaan: Perspektif Islam

By: Dini Wahyu Pratiwi

Kewirausahaan merupakan sebuah disiplin ilmu yang erat kaitannya dengan gerakan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai lebih tinggi dan inovatif. Perguruan Tinggi mewajibkan semua jurusan untuk memberikan mata kuliah kewirausahaan yang bertujuan untuk mahasiswa supaya tidak hanya menjadi pencari kerja akan tetapi juga pencipta kerja. Memberi pengarahan tentang kewirausahaan terhadap mahasiswa berguna bagi mereka yang memang tertarik dengan dunia wirausaha agar lebih fokus terhadap tujuannya nanti.

            Menurut pernyataan PBB bahwa suatu negara akan mampu membangun apabila memiliki wirausahawan sebanyak 2 % dari jumlah penduduknya. Sedangkan di Indonesia menurut Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung GEde Ngurah Puspayogamengatakan bahwa jumlah pengusaha di Indonesia hanya sekitar 1,65 % dari jumlah penduduk saat ini masih kalah dengan negara tetangga yaitu singapura sebesar 7 %,  Malaysia 5 % dan Thailand 4% . Jika jumlah pengusaha meningkat dapat menggerakan semua sumber daya dari mulai menyerap lebih banyak tenaga kerja yang dapat mengurangi penggangguran dan juga dapat  mengelola secara baik sumber daya alam yang ada di Indonesia.

            Islam menawarkan konsep kewirausahaan yang sangat kompleks. Perdagangan dalam islam adalah aspek kehidupan yang masuk ke dalam bagian mu’amalah yaitu kegiatan yang berkenaan dengan hubungan horisontal antar manusia dan nantinya akan tetap dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.  Manusia dalam Q.S Al-baqarah ayat 30 adalah sebgai khalifah yang mengatur segala yang ada di bumi. Seharusnya manusia memberikan value added yang berguna untuk kemaslahatan.

            “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi,dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” Q.s Al jumuah ayat 10. Ayat yang menjelaskan tentang melakukan ibadah terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan yang lain. Setelah itu kita diperintahkan untuk bertebaran yang artinya berusaha untuk mencari rezeki yang baik dengan berwirausaha dan dala melakukan kegiatan tersebut kita tetap harus mengingat Allah terus dan terus supaya apa yang diperoleh nantinya bermanfaat. Nabi Muhamad SAW telah menjadi seorang figur wirausahawan yang sukses dengan berlandaskan Al-quran menerapkan empat sikap kenabian yaitu siddiq, tabligh, amanah dan fatonah dalam bertransaksi. Raslullah telah memulai bisnisnya sejak dia berusia 12 tahun jauh ia memperoleh gelar kenabiannya. Dimulai dengan membeli barang dari suatu pasar kemudian menjualnya kembali kepada orang lain untuk mendapatkan keuntungan yang akan dapat membantu meringankan beban pamannya. Rasulullah bersama dengan pamannya melakukan perjalanan dagang hingga ke Syria. Bisnis yang terust berkembang hingga Khadijah menawarkan kemitraan bisnis dengan sistem profit sharing.

            Islam menganjurkan umatnya untuk melakukan wirausaha. Banyak ditemukan ayat atau hadits yang mendorong seorang muslim untuk berwirausaha. Misalanya dala hadits berikut:
“Perhatikan olehmu sekalian perdagangan, sesungguhnyadi dunia perdagangan itu ada 9 dari 10 pintu rizki (HR. Ahmad)

Dan lihat yang ini:
“Pekerjaan apa yang paling baik ya Rasululah?” beliau menjawab “ Seorang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih “ (HR. Al Bazzar)

            PErjalan yang dilakukan Rasulllah SAW selama bertahuntahun untuk melakukan perdagangan memberikan hikmah berupa unsur-unsur manajemen usaha Rasulullah SAW. Dalam melakukan penggembalaan kambingpu Rasulullah SAW terdapat nilai-nilai luhur yang terkandung seperti harus menentukan tempat dimana tumbuh rumpt yang subur, mengarahkan gembalaan untuk menuju ketempat yang subur, mengawasi kambing supaya tidak terpisah dari gerombolannya, dari hewan pemangsa dan pencuri, serta perenungan alam, manusia dan tuhan.

             Sudah jelas dari semua uraian di atas tentang perlunya belajar wirausaha yang di sertai prakteknya dianalogikan seperti ini “ Kamu membaca 100 buku tentang berenang itu tidak akan membuatmu bisa berenang kecuali kamu mempraktekkan langsung ke dalam air”sama dengan berwirausaha yang memang harus dilakukan.Tentunya jangan melupakan kaidah-kaidah secara islam agar memperoleh falah.

Sabtu, 05 November 2016

Muamalah dalam Islam, Let’s Start your Business….!!

By: Wahyuningsari

Bisnis, sepertinya kata satu itu semakin ramah saja di telinga kita? sobat ceklis berbicara soal bisnis dengan basic sebagai mahasiswa ekonomi islam tentunya tidak ada role model selain nabi Muhammad sebagai inspirator. Tapi ternyata kita masih belum menganal beliau. Bagaiamana mungkin seorang umat tak mengenal Nabi yang diikutinya? Yah kita baru mengenal beliau sebagai panutan Rasulullah, belum mengenal detai beliau sebagai seorang saudagar muslim yang sukses mengimplementasikan nilai-nilai syariah islam. Buktinya masih banyak yang kurang mengetahui kiprah nabi lewat hadist-hadist yang menjelaskan perilaku ekonomi beliau. Nah, dari itulah penulis tergerak untuk mengangkat kisah-kisah nabi Muhammad yang sangat menginspirasi bukan hanya sebagai seorang Nabi tapi juga role model saudagar muslim yang sukses dunia akhirat karena strategi cerdas dan kebijakan berekonominya.

Dari mana kita mulai ? sesuai dengan judul artikelnya yang akan tergores dalam tulisan ini adalah kisah sahabat nabi saat memulai bisnis.

Dalam sebuah hadist diceritakan tentang kisah sederhana Rasul mengajarkan praktik ekonomi kepada seorang muslim. Di kisahkan dari Anas Bin Malik, suatu hari datanglah seorang dari kaum anshar kepada Nabi untuk meminta sesuatu karena ia telah berada pada kondisi yang miskin dan masih belum bisa memenuhi kebutuhannya hari itu.

Nabi pun bertanya : tidakkah kau memiliki benda yang tersisa dalam rumahmu?

Sahabat Anshar itupun menjawab : ada ya Rasulullah, bekas kain pelana yang sebagian kami pakai untuk duduk dan sebagian lagi kami gunakan sebagai mangkuk untuk minum.

“pergilah dan ambil barang itu dan bwalah kemari “ pinta Rasulullah.

Tidak berselang lam lelaki Anshar itu memang kembali membawa satu-satunya barang yang tersisa dirumahnya kepada Rasulullah. Tak disangka Rasulullah melelang barang tersebut ditengah orang banyak. Semula ada yang hendak membelinya seharga satu dirham, kemudian rasul masih menanyakan lagi adakah yang berkenan diatas harga tersebut dan akhirnya benda tersebut terjual seharga dua dirham.

Diberikannya uang tersebut kepada si pemiliki dan rasulullah bersabda : “ separuh uang ini kamu belikan makanan untuk keluargau dirumah, dan separuhnya lagi belikan kampak dan bawalah kepadaku lagi”

Hal tersebut dilakukan oleh seorang sahabat Anshar. Benar ia kembali kepada Rasulullah membawa Kampak yang diminta Rasulullah. Bersabdalah nabi Muhammad :” berangkatlah engkau sekarang mencari dan menebang kayu dan kemudian menjualnya. Janganlah kamu menjumpaiku sampai 15 hari “

Dijalankanlah perintah Rasulullah, pergilah lelaki Anshar tersebut ke bukit untuk mencari kayu kemudian menjualnya. Sesudah lewat lima belas hari dia datang kembali kepada nabi dan tangannya menggenggam uang sebanyak sepuluh dirham. Sebagian uang itu dibelikannya pakaian, sebagia lagi untuk makanan, sedangkan sisanya untuk menjadi modal selanjutnya.

Rasulullah bersabda : “perbuatan ini lebih baik bagimu daripada kamu hidup mengemis dan meminta-minta yang nanti akan menjadi cacat bagi mukamu di hari kiamat”

Kisah diatas adalah penggalan hadist yang diungkapkan sepenuhnya oleh Yusuf Qardawi. Secara jelas Rasulullah sebagai kepala Negara dengan tegas menolak memberikan begitu saja harta (Negara) dari zakat kepada lelaki anshar yang datang padanya padahal badannya masih kuat dan masih mampu berusaha. Jelaslah nabi tidak menghendaki yang demikian. Kecuali jika semua jalan sudah sempit. Bukankah begitu menginspirasi seorang sahabat yang bahkan sebelumnya tak memiliki suatu apapun hanya pelana bekas perang kemudian berkecukupan hanya dengan waktu 15 karena mau memulai usaha. Andai kitta yang masih berstatus mahasiswa semester satu dua mau memulainya ? mungkin esok saat wisuda kita selain bangga memamerkan gelar kita juga telah bangga memamerkan hasil bisnis kita. tentunya bisnis syariah ya.. subhanallah.. dari hal kecil saja, motivasi memenuhi kebutuhan individu yuk kita bangun bisnis meneladani Nabi kita. semoga bermanfaat